Negara Indonesia terkenal dengan negara yang makmur. loh jinawi, ijo royo-royo, seperti apa yang diungkapkan penyanyi tahun 70an Koes Plus. Ibarat batang ketela yang ditancvapkan saja akan menghasilkan. Itu dulu, seiring perjalanan waktu....bencana deni bencana menghantam bertubi-tubi melanda tanah air. Baik bencana banjir, tanah longsor maupun bencana alam lain seperti gempa bumi, Tsunami, gunung meletus. Banjir dan tanah longsor yang menimpa Indonesia Timur di Wasior dan daerah lainnya yang semula tidak termasuk zona banjir dan tanah longsor saat inipun masuk wilayah tersebut, meskipun hanya banjir kiriman, Semua itu tak lepas dari ulah manusia yang menebang pohon secara serampangan tanpa menjaga ekosistem alam. Kearifan alam disalah gunakan, tentunya suatu saat alam akan berontak. Sehingga orang - orang yang menebang pohon dan melakukan illegal logging dan kroni-kroni yang menikmati hidup senang dan menikmati hasilnya dan rakyat ataupun masyarakat yang tak tahu apa-apa menangggung derita atas perbuatan mereka. Bagaimanakah tindakan dari aparat penegak hukum kita ? sejauh mana respon dan tanggapan serta tindakan yang diambil terhadap mereka ? ikut2an? masa bodo? cuek? dan istilah seabrek lainnya ? ternyata masih banyak oknum2 yang merajalela bergentayangan mengatas namakan hukum dan duduk/tidur diatas penderita rakyat. Pedulikah mereka? seberapa nilai kepedulian mereka / berapa harga kepedulian mereka jika dibandingkan penderitaa dan akibat perbuatan yang tlah mereka lakukan!
Bencana gempa bumi dan tsunami di Mentawai belum lepas dari ingatan kita semua, bencana meletusnya gunung paling aktif di Indonesia bahkan masuk dalam 10 gunung teraktif didunia " Gunung merapi ' yang berada di perbatasan DIY dan Jawa Tengah. Jum'at 29 Oktober 2010 meletus dengan mengeluarkan wedhus gembel alias awan panas yang mampu menerjang apa saja yang dilaluinya hingga radius 15 Km bahkan lebih, belum lahar panas, lahar dingin, maupun bahaya erupsi yang ditimbulkannya berdampak pada yang lainnya. Arus Pengungsian berribu-ribu baik yang berada di kabupaten Boyolali dan Magelang provinsi Jawa tengah serta Sleman, DIY. Penderitaan mereka sangat menyentuh hati nurani bagi yang mempunyai rasa kepedulian kepada sesama. Seperti Kinah rejo desanya sang kuncen (juru kunci) Merapi " Mbah Marijan" (kuncen sendiri ikut jadi korban), Cangkringan dan sekitarnya lebih parah lagi dan menimbulkan kerugian yang besar baik kerugian materi dan non materi. Lahan pertanian (sawah/padi, ladang/salak pondoh, perikanan) nyaris mati semua, belum rumah yang rusak berat/terbakar, ternak bahkan nyawa yang melayang termasuk beberapa relawan yang gugur dalam melaksanakan tugas kemanusiaan, sebagai tameng hidup demi menolong sesama dan rela mengorbankan nyawanya sendiri asal orang banyak/lain terselamatkan.
Disaat bencana terjadi dan melanda, disaat orang lain mengungsi dan menjauhi zona bahaya...justru para relawan/Tim SAR yang selalu berada didepan dan mendekati daerah bencana bersama aparat terkait untuk memberikan pertolongan ataupun evakuasi masyarakat ke tempat aman. TAPI NAIF SEKALI SERING KITA LIHAT, DISAAT ORANG MENDERITA, SENGSARA, DI SAAT ITU PULA MASIH BANYAK ORANG LAIN MALAH MENYAKSIKAN TANPA MAU BERBUAT APA-APA TUK MEMBERIKAN PERTOLONGAN/BANTUAN.....BAHKAN MENJADIKAN WISATA BENCANA...
Untuk meberikan pemahaman/pengertian tentang bencana kepada masyarakat sekaligus sebagai pembelajaran, perlu adanya sosialisasi dan simulasi kebencanaan. Agar masyarakat tahu apa dan bagaimana itu bencana dan tindakan yang diambil, sehingga kerugian - kerugian dapat ditekan terlebih lagi korban jiwa dapat ditekan. Oleh karena itu, besuk hari Kamis 25 Nopember 2010, akan dilaksanakan giat simulasi Tsunami di Pantai Widarapayung, Binangun, Adipala, Cilacap timur yang pernah kena dampak tsunami Pangandaran sekitar 2006 lalu. Giat ini diprakarsai oleh BNPB dan BPBD Provinsi Jawa Tengah serta pihak terkait di Kabupaten Cilacap. Selaku relawan dan Tim SAR, menyarankan kepada pihak terkait :
1. Memperdayakan para relawan/Tim SAR yang ada sebaik-baiknya (relawan yang benar2 eksis dan
mempunyai kredibelitas)
2. Sosialisasi kepada masyarakat dan dunia pendidikan/sekolah secara berkala dan berkesinambungan
3. Birokrasi penanganan dan penggulangan bencana tidak berbelit-belit (logistik, peralatan ?)
4. Menjalin kerjasama dan komunikasi yang baik dengan relawan/Tim SAR
5. Membentuk jejaring kepedulian kemanusiaan
Itu semua, dengan harapan dalam kondisi amanpun tetaplah terjalin kerjasama dan komunikasi yang baik antar semua pihak yang terkait dengan kebencanaan. Sehingga apabila bencana terjadi sewaktu-waktu, dapat segera tertangani dengan baik karena sudah biasa koordinasi, komunikasi, kerjasama meskipun tidak ada bencana (!/?).
Perlu diketahui pula, para relawan/Tim SAR merasa terpanggil jiwa demi sesama, tanpa memandang jabatan, ekonomi, status, daerah/wilayah...Yang penting sesegera mungkin bisa memberikan sesuatu yang nyata dilapangan....BRAVO TIM SAR....................========AVIGNAM JAGAD SAMAGRAM =====
Tidak ada komentar:
Posting Komentar