SRB......... musim hujan telah tiba.
Dimusim penghujan bencana alam yang senantiasa terjadi adalah banjir, tanah longsor, puting beliung.
Menurut perkiraan cuaca BMKG, musim penghujan dengan intensitas tinggi terjadi pada bulan Desember-Januari. Dan ini memunculkan kerentanan bencana, sehingga BNPB/BPBD menginstruksikan bahwa Jawa Tengah siaga banjir dan tanah longsor.
Sejak tanggal 19 Desember 2013, jawa tengah sudah mulai diguyur hujan lebat di beberapa kota/kabupaten. sehingga menyebabkan beberapa sungai dan anak sungai air meluap, seperti sungai bengawan solo yang mengalir melalui beberapa kota/kabupaten di jawa tengah dan jawa timur.
Dengan curah hujan tinggi menyebabkan pula beberapa waduk terisi air yang melebihi kemampuannya. dan ini jika tidak mampu menampung dapat menyebabkan jebolnya waduk. Dapat dibayangkan betapa hebatnya debit ait jika hal itu terjadi, masih ingat peristiwa jebolnya SITU GINTUNG di Jakarta ?
Untuk mencegah jebolnya waduk, maka dibukalah pintu air, agar air yg tertampung di waduk bisa terkendali. waduk mrica banjarnegara melalukan dengan mengatur pintu air dengan debit 250m/detik pada hari kamis 19 Desember, sehingga sunagi serayu meluap airnya, dan masih terkendali dan tidak menimbulkan dampak bajir disepanjang aliran sungai. Lain halnya waduk wadas lintang diperbatasan Wonosobo-Kebumen, tidak mampu menahan beribu2 kubik air, sehinga air dialirkan ke saluran pembuangan dan saluran tidak mampu menampung. Sehingga menyebabkan meluap dan menggenangi puluhan desa dengan ketinggian 05-3 meter di wilayah Kebumen dan Kutoarjo Purworeja, ratusan warga diungsikan oleh TIM SAR/relawan dan pihak terkait untuk mencegah korban jiwa. Dampak yang lainnya, jalur utama Yogyakarta-Purwokerto/kebumen/Cilacap macet total karena jalan raya di perbatasan Prembun-Butuh sekitarnya ikut tergenang air sampai setinggi dada orang dewasa. Puluhan relawan dikerahkan untuk mengevakuasi beberapa warga yang terjebak, jembatan Butuh ditutup karena tergenang air dan tdk nampak.
Selain banjir, tanah longsor juga terjadi di beberapa wilayah seperti di Banjarnegara, Wonosobo, Purworejo, Banyumas dan daerah lainnya, bahkan menelan korban jiwa seperti di Karangsambung Kebumen dengan 3 jiwa.
Salah satu penyebabnya adalah penggundulan hutan dan perbukitan, dimusim kemarau beberapa daerah terjadi kekeringan, dimusim penghujan kelebihan air alias banjir. Salah siapakah ini? baik masyarakat dan pemerintah berkewajiban menjaga kelestarian alam.
Beberapa komunitas relawan telah melakukan penghijauan/reboisasi di beberapa perbukitan dan gunung dengan swadaya mereka sendiri. Bahkan dari pihak terkait yang seharusnya mempunyai wewenang belum/tidak melakukannya, dan bahkan tidak peduli sama sekali.............
MARI BERSAMA-SAMA MENJAGA KELESTARIAN ALAM SEMESTA INI untuk mencegah bencana banjir, tanah longsor, kekeringan, perubahan iklim global/efek rumah kaca....
BRAVO ..........BUAT PARA RELAWAN YANG TELAH MELAKUKAN "GO GREEN" DENGAN SWADAYA MURNI TANPA CAMPUR TANGAN/KEPEDULIAN PIHAK TERKAIT..INI MENJADI KEPRIHATINAN...DAN SANGAT DISAYANGKAN SEKALI....
Masyarakat juga harus memahami karakteristik wilayah sekitar rumah mereka dan mengerti/mengetahui tanda-tanda bencana alam. masyarakat masih banyak juga yang belum memahami hal tersebut, bahkan dengan simulasi penanganan bencana alam masih dijumpai masyarakat yang kurang antusias alias tidak pedulia alias cuek begitu saja. Yang akhirnya jika bencana terjadi dan memakan korban jwa, barulah mereka menyesalinya, penyesalan yg terlambat. Faktor ini juga dirasakan oleh beberapa komunitas relawan yang bergerak dalam penanganan bencana (PB), dalam arti pihak terkait (BPBD) terkadang masih kurang memaksimalkan potensi masyarakat tersebut. Pada hal jika terjadi bencana, para relawanlah yang selalu menjadi ujung tombak alias berada digaris depan.
Pemeo/pepatah mengatakan "TIM SAR/Relawan itu antara ADA dan TIADA, disaat bencan terjadi selalu dicari-cari/berada digarda depan namun disaat tidak terjadi bencana mereka spsertyi tidak ada dan dianggap tidak ada oleh suatu instansi/lembaga/badan terkait....kedepan diharapkan itu terjadi perubahan menjadi "ADA dan BERADA" disaat bencana timbul mereka tampil/ada dan disaat tidak terjadi bencana selayaknya dilakukan pembinaan, pelatihan, diklat/bintek,simulasi dan sejenisnya agar keahlian para relawan semakin TANGGAP, TANGGUH dan TANGKAS semakin meninggkat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar